Kamarang.id | Herdiana Permana (19) baru saja lulus dari sekolahnya di SMK PK Nurusalam Salopa Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2025 lalu. Saat sekolah dan duduk di bangku kls XI niatnya sangat kuat untuk bekerja.
Siswa jurusan Agrobisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) inipun mendaftar di bursa kerja BKK di sekolahnya, yang kebetulan sekolahnya saat itu tengah menerima bantuan dari pemerintah berupa program Sekolah Pusat Keunggulan yang memusatkan pada pemenuhan infrastruktur jurusan pertanian dan persiapan pemagangan kerja di luar negeri.
Herdiana tidak sendirian, ada 7 temannya dari berbeda jurusan di sekolahnya yang ikut program ini.
Waktu terus berlalu ke 8 siswa ini di gembleng selama 3 bulan di pusat pendidikan bahasa dan kultural LPK Seiko Indonesia yang kebetulan sebuah lembaga penyalur kerja yang sudah cukup lama dan pengalaman dalam menjalin kerjasama dalam dunia kerja di beberapa negara terutama dengan negara jepang.
Tak hanya diberikan pemahaman bahasa nippon untuk mendapatkan sertifikat N4, para siswa inipun diberikan pelajaran attitude serta kulturisasi kerja di negara yang akan diberangkatkan nantinya.
Herdiana sempat ragu dan ingin memutuskan untuk tidak melanjutkan kursus di LPK seiko ini, namun berkat dorongan motivasi kepala sekolah yang kerap kali mengunjungi LPK Tempatnya menimba ilmu, ia pun melanjutkan perjuangannya tersebut.
“Jujur awalnya saya stress, dan tidak betah diawal awal bulan kursus di LPK, sempat mau memutuskan pulang, tapi entah kenapa motivasi dari pak Kepala saat itu menancap di diri saya, “saya harus bisa” dan alhamdulillah saya bisa,” ujar Herdi.
Dimata salah seorang guru prodi sekaligus kepala Jurusan ATPH Bubun Bunyamin S.Pd sosok Herdi adalah siswa yang cukup pendiam tapi penurut dan sangat baik, selain kerap kali ikut masuk dalam bagian dari atlet volley Herdi juga paling rajin membantu dirinya saat penyiapan produksi di green house.
“Anak itu memang pendiam, tapi cukup rajin dan selalu membantu saya jika persiapan produksi keinginanya untuk bekerja diluar negeri memang sudah dia utarakan dari dulu,” ujar Bubun.
Perjuangan siswa Banjarwaringin yang jarak se sekolahnya cukup jauh ini, dalam keputusannya bekerja di Jepang itu bukanlah perjuangan yg mudah, butuh proses yang cukup lama hingga harus menunggu 1 tahun.
Menurut kepala sekolah Dedi Zafar M. Proses ini memang cukup membutuhkan waktu yang lama karena pihak jepang juga tengah menata ekonomi di dalam negerinya dan gejolak geo politik di luar negeri belum stabil.
Namun karena kerjasama ini sifatnya bilateral antara pemerintah Indonesia dan Jepang melalui kementrian pendidikan dan kementrian ketenagakerjaan Republik Indoneisa akhirnya pemerintah Jepang membuka lagi kran peneriman migran terlatih indonesia untuk bekerja di jepang.
“Ya memang cukup lama perlu waktu kurang lebih 8 bulanan karena faktor lain yang dihadapi kedua negara ini, dan alhamdulillah dengan konsep dana talang dari Seiko, akhirnya herdiana bisa berangkat ke jepang,” jelas Dedi.
Ditambahkan Dedi bahwa program magang di luar negeri dalam proyek bantuan sekolah Keunggulan ini, membuktikan bahwa siswa SMK masih mampu menunjukan kepada negara dan dunia bahwa ditengah tengah sulitnya mencari pekerjaan, siswa SMK bisa dan hebat mampu menembus lowongan pekerjaan di dunia ke 3 .
Dan dengan methode system link and match yang menjadi barometer kelulusan siswa, pihaknya sudah membuktikan bahwa SMK bukanlah penyumbang pengangguran karena di SMK juga memiliki BKK atau Bursa Kerja Khusus yang menampung anak anak siap kerja untuk dikirim ke perusahan persuahaan yang membuka lowongan pekerjaan baik domestik maupun international.
Menurut koord BKK SMK Nurusalam Irfan Bagja Mulyana, saat ini Herdiana dikontrak selama 1 tahun di perusahaan pengembang jasa industri infrastruktur yang di jepang terkenal dengan nama Doboku, Kabushiko Gaisha Akatsuki Sangyo
“Insha allah satu orang lagi atas nama Age alumnus yang sama akan dipersiapkan oleh Seiko berangkat menyusul,” pungkas Irfan. (dz)











