Oleh : KH Muhammad Yan Yan Al Bayani.S.Kom.I.,M.Pd
Ketika bergulir isue nasab ba’alawi dan konon katanya bagian dari kajian ilmiah, saya mencoba BERHUSNUDZHON bahwa isue ini tetap berada di jalur kode etik kajian ilmiah.
Sebagai orang bodoh, tentu diskusi ilmiah ini menarik untuk mengisi kekosongan wawasan saya tentang nasab.
Namun, setelah diperhatikan perkembangan terkini, saya jadi prihatin. Saat ini yang terjadi caci maki, olok olok, merendahkan, ujaran kebencian dan ajakan permusuhan. Bahkan di salah satu video yang beredar muncul narasi pengusiran dan kata kata musnahkan.
Sedih rasanya mendengar kalimat kalimat kotor keluar dari mulut orang orang yang secara dzohir berpakaian layaknya orang Soleh dan berilmu.
Dalam catatan saya ada beberapa narasi yang tidak bijak dan sangat tidak tepat, antara lain :
1. ‘Andai seluruh ulama dunia memfatwakan karena suatu hal, bahwa nasab ba’alawi adalah sohih, maka saya akan tetap menolaknya”. Saya rasa malu lah koar koar kajian ilmiah, bila prinsipnya seperti itu. Seorang peneliti tidak akan berani bicara bodoh seperti itu, ia akan mengatakan bahwa saya meyakini kebenaran hasil penelitian saya, kecuali ada dalil lain yang lebih kuat dari argumen dan data yang sudah saya temukan. Narasi tadi, menunjukan bahwa ia bukan seorang peneliti, sehingga percuma diskusi, sebab seterang benderang bagaimanapun kebenaran yang disodorkan, ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya
2. “Mulai hari ini, haram mencium tangan mereka”. Lho kok jadi menghukumi haram mencium tangan para Habaib ?. Bila anda meyakini kebenaran temuan anda, gak usah larang larang orang mencintai mereka dengan mencium tangannya. Di antara para Habaib itu ada yang jadi ulama atau kiyai. Bila menurut anda nasabnya terputus, tapi kan ilmunya enggak ? Bahkan bila pun ada Habaib yang tidak jadi ulama, apa salahnya saling mencintai sesama orang beriman ? Kan diperintahkan agama untuk saling mencintai dan menyayangi, menghormati serta menghargai.
3. “Kita sweeping baalawi’. Lho kok jadi sweeping sweeping ? Emang negri ini milik anda seorang ? Apa anda lupa atau pura pura lupa, semboyan negara kita kan Bhineka Tunggal Ika. Kaum Baalawi itu bagian dari warga NKRI yang punya hak hidup di NKRI dan dijamin oleh undang undang. Anda siapa berani berkata kita sweeping baalawi’ ? Secara faktual nenek moyang mereka memang dari Yaman, tapi banyak yang menikah dengan warga di Nusantara, sehingga darah di tubuh mereka merupakan campuran Yaman dan Nusantara. Apa anda lupa dengan pemain naturalisasi di Timnas sepak bola ? Mereka saja yang direkrut dadakan jadi pemain Timnas setelah dinaturalisasi memiliki hak layaknya warga NKRI, apalagi kaum Baalawi yang sudah tinggal di NKRI ratusan tahun
4. “Mereka numpang hidup, cari makan doang”. Eh anda lupa, ada banyak kaum Baalawi yang menjadi pejuang kemerdekaan. Sebut saja di antaranya Al Habib Husein Al Mutohhar, yang lebih dikenal sebagai bapak perintis pasukan Paskibraka dan pencipta lagu lagu nasional seperti hari merdeka, syukur, hymne Pramuka dll. Habib M.Asad bin Syahab jurnalis yang turut menyiarkan berita proklamasi ke negri negri arab dan internasional. Habib Husein bin Syihab aktifis Pandu arab yang pernah ditembak gara gara merampas senjata dan amunisi dari gudang tentara Belanda untuk diserahkan kepada pejuang Republik. Begitu pula para Habib lainnya yang turut berkiprah dalam upaya merebut kemerdekaan di negri ini.
5. “Lagu Rhoma Irama, Sebujur bangkai lebih baik dari ceramah 70 Habaib”. Wah ini sudah jelas, bukan lagi kajian ilmiah. Ini ujaran kebencian dan permusuhan. Lagu Sebujur bangkai memang bagus, tapi bukan pembenaran merendahkan ceramah 70 Habaib. Saya yang berguru kepada para ulama dari kalangan Baalawi dan non Baalawi jadi makin prihatin. Gejala yang muncul adalah upaya memecah belah ummat. HASUD dan kebencian makin kentara tampak ke permukaan
Melihat penomena yang terjadi makin melenceng dari narasi awal yaitu kajian ilmiah, maka saya ingatkan kepada siapa pun yang terlibat dalam kisruh carut marutnya perdebatan nasab ba’alawi, untuk menghentikan polemik ini. Kenapa ? Karena yang terjadi adalah perpecahan di kalangan ummat nabi Muhammad, sikap saling benci dan saling memusuhi sesama kaum muslimin.
Sadarlah, bahwa perbuatan kalian bukan ajarannya Rosululloh. Rosul menyuruh kita untuk saling mencintai bukan untuk saling membenci. Rosul mengajarkan kita untuk merekatkan persaudaraan bukan ujaran permusuhan.
Sepesimis apa pun saya harus sampaikan, agar sesama ummat Islam tidak saling memusuhi.
Saya sadar bahwa saya hanya seorang santri, tapi yang harus lebih malu lagi adalah orang mengaku kiyai tapi dari mulutnya keluar narasi permusuhan kepada sesama ummat Islam.
Ada baiknya, semua merenungkan nasihat dari guru kita Rois Syuriah PBNU Al Mukarrom KH Miftahul Ahyar yang begitu bijak mensikapi persoalan nasab ini.
@Bersatulah wahai kaum muslimin#
@Penulis adalah Pimp Ponpes Miftahulhuda Jarnauziyyah Mangkubumi Kota Tasikmalaya#Majelis Rijaluddakwah#Majelis Ratib Wal Maulid Ahbabunnabi@











