Tasikmalaya, kamarang.id | Konser Hindia yang sedianya akan di gelar di Kota Tasikmalaya tepatnya di lapangan Lanud Wiriadinata pada tanggal 19 – 20 Juli 2025, kini semakin memanas, pihak EO yang terkesan keukeuh akan mengelar konser dengan alasan tiket sudah terjual ini justru nampak seperti meminta simpati sejumlah netizen.
Semntara itu, para penggiat dan penegak syariat yang digawangi Al Mumtaz masih kukuh dalam pendiriannya bahwa konser ini harus dibatalkan dengan berbagai point yang mereka sodorkan kepada pihak Kepolisian resort Kota Tasikmalaya pada Kamis 10 Juli 2025.
Dengan sederet point point yang lebih menekankan upaya penyelamatan aqidah generasi muda dari pengaruh musik Hindia ini yang disinyalir kerap kali memasang jargon jargon freemason dan lambang lambang atheis serta lirik liriknya yang cenderung membawa penonton kedalam neraka.
Hal inilah yang membuat sejumlah aktivisi ormas di Tasikmalaya menyatakan sikap tegasnya.
Ustad Tatang Setiawan pengurus Brigade pusat Persis Kota Tasikmalaya menekenakan pihak kepolisian agar mebatalkan konser tersebut, karena bisa saja memicu konflik yang lebih jauh mengingat Tasik adalah kota santri dan kota marwah para ulama dan syuhada.
Hal yang serupa juga disampaikan ustad Ucu dari Brigade Tholiban, ust Abu Hazmi dari Ansharu syariah dan ustad Kh Yanyan Albayani dari FPI, pada prinsifnya sama menekan pihak Polres untuk membatalkan agenda acara ini.
Bahkan hari ini ( sabtu -red ) semua pengasuh pontren dan para pengurus Ormas islam akan bersama sama menanda tangani kesepakatan menolak konser grup band Hindi, dan lomba Sihir di Kota Tasikmalaya sebagai upaya untuk menyelamatkan marwah Tasik kota santri dan ulama.
Lebih terang ustd Abu Hazmi menjelaskan secara analisa lirik dari sebuah lagu hindi yakni
Analisa Lirik:
Ku doakan kita semua Masuk neraka
Panjang umur
Matahari tenggelam
Selamat datang malam
Analisis
Secara umum, narasi ini bernuansa gelap dan sarkastik, dengan pilihan kata yang bisa memberi kesan menyimpang dari norma-norma spiritualitas mainstream, terutama dalam Islam atau agama-agama Abrahamik lainnya. Berikut analisisnya per bagian:
—
1. “Ku doakan kita semua Masuk neraka”
Kalimat ini bersifat inversi nilai—doa biasanya ditujukan untuk kebaikan (masuk surga), namun di sini didoakan agar masuk neraka.
Dalam konteks satanisme, terutama versi modern dan simbolik, sering ditemukan kebalikan dari nilai-nilai agama mainstream, termasuk membalik doa atau menggunakan simbol-simbol kutukan sebagai bentuk provokasi terhadap norma agama.
Ini tidak secara langsung membuktikan ritual satanik, namun penggunaan kalimat ini sejalan dengan retorika atau ekspresi dalam subkultur gelap, termasuk sebagian kelompok yang mengklaim sebagai satanis.
2. “Panjang umur”
Biasanya ini doa yang baik, tapi jika dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, maka bisa diartikan sebagai:
Sarkasme: Panjang umur agar lebih lama menderita di dunia atau di neraka.
Doa duniawi tanpa nilai spiritual: Sejalan dengan ajaran satanik modern (seperti Church of Satan versi Anton LaVey), yang lebih menekankan hedonisme, kekuatan diri, dan penolakan terhadap kehidupan akhirat.
3. “Matahari tenggelam” & “Selamat datang malam”
Simbolisme ini sangat umum digunakan dalam puisi, musik, dan literatur yang bernuansa gotik atau okultisme.
Matahari tenggelam: malam bisa diartikan sebagai:
Masuk ke dalam fase kegelapan, baik secara harfiah (malam) maupun metaforis (kejahatan, setan, hal-hal tersembunyi).
Dalam konteks ritual satanik atau okultisme, banyak kegiatan dilakukan di malam hari, karena dianggap sebagai waktu spiritual paling “terbuka” untuk energi gelap.
Bisa mengandung unsur penyambutan terhadap kekuatan kegelapan, walau tidak selalu eksplisit sebagai bagian dari satanisme.
“Jelas jelas kita kan ingin selamat darj siksa neraka ini malah mendoakan masuk neraka, astagfirullah,” ungkapnya. (Red)











