Ciamis, intiraya.com | Kelompok Tani Parikesit di Dusun Kubangpari rt.12 01, Desa Bangunsari Pamarican, Kabupaten Ciamis berhasil mengembangkan Beras Organik jenis Sri.
Sohidin Heryanto, marketing dan urusan ekternal kelompok, mengatakan, pengembangan beras Galuh organik dimulai sejak 2006, yang sebelumnya hanya beberapa hektare kini sudah mencapai 24 hektare sawah yang dikelola.
“Sekarang baru 25 hektare, cita citanya ribuan hektare sesuai dengan luas lahan yang dimiliki desa,” terang Sohidin kepada media, Senin 28 April 2025.
Sohidin mengatakan, perhaktarenya bisa mencapai 7-8 ton. “Sebelumnya kalau pakai kimia itu mencapai 5-6 ton, sekarang Alhamdulillah bisa 7-8 ton,” tambahnya.
Sohidin mengungkapkan, ada beberapa kendala dalam mensosialisasikan program padi organik tersebut ke para petani.
Ia mengatakan, sebelum mulai para petani takut produksi padinya menurun, tapi setelah dijalani ternyata malah meningkat.
“Iya dulu pas pertama, itu para petani itu takut untuk memulai karena takut produksinya menurun tapi ternyata malah meningkat,” terangnya.
9
Sementara, untuk pemasarannya, Sohidin mengatakan, peluangnya masih terbuka. Untuk wilayah pasar Pajajaran saja menurutnya masih belum terpenuhi.
“Sebenarnya untuk pasar Pajajaran atau lokal pun kita masih kewalahan,, karena yang membudidayakan belum banyak. Jadi peluangnya memang masih terbuka,” katanya.
Adapun selama ini, untuk pemasaran yang sudah dan sedang berlangsung Sohidin mengatakan, ada yang ke Jakarta, Riau dan pasar sekitar Ciamis dan Banjar.
“Sampai ke Riau juga, sistemnya sih online,” ujarnya.
Dalam satu kemasan, kelompok Parikesit menyediakan beras seberat 5 kilogram dengan harga per kilogramnya dua puluh ribu rupiah.
Sohidin mengakui dalam pengembangan beras organik tersebut tidak bisa sendirian, ada peran peran pentaholik seperti pembinaan dari BUMN dan juga pemerintahan.
“Alhamdulillah saya di bantu Bank Indonesia Tasikmalaya dalam pengembangan ini. Karena untuk memiliki sertifikat standar beras organik harus ada beberapa sarana dan prasarana, seperti Rumah MOL, tempat penggilingan padi khusus dan lain lain. Dan itu terwujud berkat adanya bantuan dan binaan dari BI,” ujarnya.
Sohidin berharap kedepan, semua lahan sawah yang ada di desa Bangunsari bisa membudidayakan padi organik sehingga pasokan kebutuhan pasar bisa terpenuhi.
“Mimpinya seperti itu, mudah mudahan terwujud. Terimakasih kepada Bank Indonesia atas dukungannya,” harapnya. (***)











