Tasikmalaya, kamarang.id | Pemerintah Desa Karanglayung, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, secara resmi membuka Pasar Karanglayung dalam sebuah acara meriah yang digelar pada Senin, 14 Juli 2025.
Kegiatan peresmian berlangsung semarak dengan rangkaian acara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), tabligh akbar, serta seremoni gunting pita sebagai penanda dimulainya operasional pasar tersebut.
Kepala Desa Karanglayung, Epen Ruswandi, S.Ag, mengungkapkan bahwa pembangunan pasar ini merupakan bagian dari strategi pemerintah desa dalam meningkatkan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.
“Pembangunan Pasar Karanglayung ini bersumber dari Dana Desa tahun 2023 sebesar Rp490.508.750, dan tahun 2024 sebesar Rp495.000.000, sehingga total anggaran pembangunan mencapai Rp985.508.750. Saat ini tersedia 28 kios yang telah disiapkan untuk dimanfaatkan oleh para pelaku usaha,” jelasnya.
Kios-kios tersebut diisi oleh berbagai jenis usaha masyarakat, seperti pedagang bakso, bubur ayam, sembako, pupuk, air isi ulang, hingga layanan fotokopi.
Pemerintah desa berharap, keberagaman usaha ini mampu memenuhi kebutuhan warga sekaligus menciptakan perputaran ekonomi yang sehat di desa.
Epen optimis, kehadiran pasar ini akan membawa dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat dan peningkatan Pendapatan Asli Desa (PAD) di masa depan.
“Dengan hadirnya pasar ini, saya yakin roda perekonomian masyarakat Karanglayung akan meningkat,” tambahnya.
Tarif sewa kios ditetapkan sebesar Rp2,5 juta per tahun untuk ukuran 3×3 meter dan Rp3,5 juta per tahun untuk kios berukuran 3×4 meter.
Sementara itu, Camat Karangjaya, Atang Sumardi, S.Kep., MM, menyambut baik kehadiran pasar desa ini.
“Dengan adanya Pasar Karanglayung, sektor perekonomian masyarakat akan tumbuh dan daya beli masyarakat pun meningkat,” ujarnya.
Acara peresmian turut dihadiri oleh tokoh masyarakat, ketua Karangataruna Desa, Ketua BUMDes, Ketua Kopdes Merah Putih, MUI Desa Karanglayung, serta unsur Muspika Kecamatan Karangjaya.
Pemerintah Desa berharap Pasar Karanglayung tidak hanya menjadi pusat jual beli, namun juga simbol kemajuan, kemandirian, dan semangat ekonomi lokal masyarakat desa. (Boy)











