Daerah

Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola

471
×

Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola

Sebarkan artikel ini
Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola
Tasikmalaya Krisis Drainase, Banjir Bukan Sekadar Hujan Tapi Masalah Tata Kelola

 

Tasikmalaya, kamarang.id | Genangan dan banjir yang berulang di Kota Tasikmalaya bukan lagi sekadar peristiwa alam, melainkan cerminan dari kegagalan tata kelola infrastruktur perkotaan.

Setiap kali hujan turun dengan intensitas sedang hingga tinggi, sejumlah wilayah dari pusat kota hingga kawasan permukiman padat, terendam air.

Hal tersebut menjadai perhatian banyak pihak, salah satunya, Aliansi Mahasiswa Tasikmalaya yang mengkrikit kebijakan yang seolah tidak ada hasilnya.

Riswara Nugroho, Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Tasikmalaya, mengatakan, Pola ini berulang dari tahun ke tahun, tanpa ada perbaikan yang berarti.

Menurutnya, masalah utama bukan pada langit yang menurunkan hujan, tetapi pada tanah yang kehilangan kemampuan menyerap air dan sistem drainase yang tidak lagi berfungsi optimal.

“Banyak saluran air yang dangkal, tersumbat sampah, bahkan tak jarang hilang tertutup bangunan. Kapasitas drainase tidak sebanding dengan peningkatan volume limpasan air akibat pesatnya pembangunan permukiman dan minimnya area resapan,” terangnya.

Kondisi ini, lanjut Riswara, menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan terhadap sistem drainase kota. Pembangunan kerap berjalan tanpa memperhitungkan arah aliran air, sementara perawatan infrastruktur yang sudah ada berjalan setengah hati.

“Akibatnya, setiap hujan deras berubah menjadi bencana kecil yang mengganggu aktivitas warga, merusak infrastruktur, dan menimbulkan kerugian ekonomi,” tambahnya.

Riswara menegaskan, sudah saatnya Pemerintah Kota Tasikmalaya tidak lagi bersikap reaktif sekadar mengeruk saluran setelah banjir datang melainkan bertindak strategis dan preventif.

“Dibutuhkan audit menyeluruh terhadap sistem drainase kota: mulai dari peta aliran air, kapasitas saluran, hingga konektivitas antarjaringan,” ujarnya.

Pemerintah terang Riswara, perlu menerapkan konsep drainase berwawasan lingkungan atau Sustainable Urban Drainage System (SUDS), seperti pembangunan sumur resapan, taman resapan, kolam retensi, dan penggunaan material berpori di area publik.

Selain itu, keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci. Tanpa kesadaran warga untuk menjaga kebersihan saluran dan tidak membuang sampah sembarangan, infrastruktur secanggih apa pun tidak akan mampu mengatasi persoalan ini.

Banjir di Tasikmalaya adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pengelolaan air perkotaan harus berubah arah.

“Hujan tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikendalikan asal sistem drainase dirancang dengan ilmiah, dikelola dengan konsisten, dan diawasi dengan tegas,” tandasnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *