Daerah

Polemik Konser HINDIA Berlanjut di Ranah Medsos, Al Mumtaz Nyatakan Sikap Redam Kegaduhan

413
×

Polemik Konser HINDIA Berlanjut di Ranah Medsos, Al Mumtaz Nyatakan Sikap Redam Kegaduhan

Sebarkan artikel ini
Al Mumtaz Rilis Sejumlah Ormas yang Menolak Konser Band Hindia di Lanud Wiriadinata
Al Mumtaz Rilis Sejumlah Ormas yang Menolak Konser Band Hindia di Lanud Wiriadinata

Tasikmalaya, kamarang.id | Polemik konser HINDIA bertajuk Ruang Bermusik di Kota Tasikmalaya, masih terus berlanjut.

Berbagai tanggapan di media sosial yang diduga mengandung unsur narasi ujaran kebencian, fitnah, pelecehan terhadap nilai nilai aqidah dan syariat islam, terus bermunculan.

Menanggapi hal tersebut, Aliansi Aktivis dan Masyarakat Muslim Tasikmalaya (Al mumtaz) mengeluarkan maklumat, arahan dan sikap dengan harapan dapat meredam kegaduhan dan situasi tidak kondusif.

Pihak Al mumtaz menangkap berbagai komentar komentar miring yang diduga menghina, melecehkan dan merendahkan para ulama dan pesantren dengan menggunakan kata kata kasar.

Berikut beberapa penjelasan pihak Al mumtaz terkait polemik konser HINDIA yang terus merebak.

1. Ulama dan tokoh ormas Islam sama sekali tidak melarang event-event konser musik di Kota Tasikmalaya, selama tidak ada pelanggaran regulasi dan norma-norma kearifan lokal di Kota Tasikmalaya.
2. Terkait izin penyelenggaraan sepenuhnya merupakan kewenangan dari pihak kepolisian Polda Jabar.
3. Penolakan salah satu grup band yang akan tampil, dikarenakan diduga membawa muatan yang dinilai bertolak belakang dengan norma agama dan kearifan lokal, merupakan bentuk kasih sayang para ulama dan tokoh masyarakat dalam menjaga marwah Kota Tasikmalaya sekaligus Komitmen para ulama dan tokoh atas kesepakatan bersama dengan Forum Event Organizer se Priangan Timur di tahun 2023.
4. Bahwa penyelenggara Event belum mendapatkan izin resmi dari pihak berwenang tetapi sudah menjual tiket, ini merupakan pelanggaran terhadap aturan yang berlaku.
5. Kami merasa yakin semua pihak memiliki niat yang baik untuk Kota dan warga Tasikmalaya, tetapi dalam pelaksanaanya terkadang dengan tindakan yang menimbulkan ekses yang kurang baik.

Oleh karena itu maka dalam pelaksanaanya diharapkan membuka diri untuk menerima saran dan masukan solutif, tidak memaksakan kehendak apalagi memantik permusuhan dan perpecahan

Dengan penjelasan tersebut, pihak Almumtaz mengajak kepada para pengelola media sosial di semua platform untuk :
– Menghindari penggunaan narasi provokatif dalam postingannya.
– Menyaring komentar – komentar negatif, provokatif, fitnah, ujaran kebencian dan pelecehan terhadap Aqidah dan Syariat Islam.
– Menjunjung tinggi kode etik jurnalistik dan adab dalam bermedia sosial.

Selain itu, Almumtaz juga mengajak kepada para netizen untuk :

– Menghindari komentar – komentar negatif, provokatif, fitnah, ujaran kebencian dan pelecehan terhadap Aqidah dan Syariat Islam.
– Menjunjung tinggi adab dalam bermedia sosial.

“Kami tetap berkomitmen menjaga kondusifitas Kota Tasikmalaya dan menjaga marwah Kota Tasikmalaya sebagai kota Santri yang religius,” terang pihak Almumtaz melalui rilisan yang masuk ke redaksi.

Terkait akun-akun media sosial yang merasa telah menuduh, memfitnah, menghujat, menghina para ulama, santri dan aktivis ormas, Al Mumtaz masih membuka pintu ma’af.

Namun jika dalam 1×24 jam tidak ada permintaan maaf di media, Al Mumtaz mengatakan, pihaknya akan menempuh jalur hukum dengan menyerahkan bukti-bukti komentar netizen di medsos yang telah di screenshoot ke pihak polres Kota Tasikmalaya untuk dilakukan penyelidikan dan penyidikan , sesuai ketentuan hukum yg berlaku.

“Demikian hal ini kami sampaikan sebagai nasihat dan pembelajaran demi terjaganya kondusifitas dan Marwah Kota Tasikmalaya,” ujarnya.

Ditambahkan, tokoh masyarakat Kota Tasikmalaya, Nanang Nurzamil, mengatakan, Izin konser itu kewenangan Polda atas rekomendasi dari Polres, bukan kewenangan para ulama dan ormas Islam.

Kang NZ , sapaan akrab Nanang Nurzamil mengungkapkan, para ulama dan ormas Islam hanya menolak jika konser tetap menampilkan simbol – simbol satanic dan membawakan lagu yg bertentangan dengan syariat Islam.

“Apa susahnya jika sejak dari awal pihak EO meminta kpd band yg bersangkutan untuk tidak menampilkan apa yg ditolak oleh para ulama dan ormas – ormas keagamaan ? Konser masih tetap akan bisa berjalan tanpa adanya penolakan/keberatan,” pungkasnya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *