Tasikmalaya, kamarang.id | Setelah beberapa kali terjadi peristiwa keracunan di beberapa wilayah di kabupaten Tasikmalaya, akhirnya pemerintah dengan tegas memberikan sangsi berupa pemberhentian operasional SPPG tersebut.
Sangsi Penghentian sementara Tersebut dilakukan Pemerintah kabupaten Tasikmalaya sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam mengawal program nasional tersebut agar bisa terlaksana dengan baik.
Berdasarkan data, SPPG yang ditutup berada di Kecamatan Manonjaya yang pernah keracunan pada bulan Agustus, Cikalong kejadian keracunan pada 19 September dengan korba 13 orang, Cipatujah pada 1 Oktober terjadi Di SMKN 1 Cipatujah 100 orang lebih, dan terakhir Singaparna tepatnya di SDN Margamulya pada tanggal 17 Oktober dengan korban 13 orang.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Alayubi, mengatakan, Pemerintah daerah terus berupaya menjaga program makan bergizi gratis agar sesuai standar.
Fakta dilapangan, tidak hanya dugaan keracunan makananya, terdapat juga keracunan karena fasilitas.
“Saya mendapat laporan dari kawan-kawan, keracunan itu tidak hanya dari makanan, bahan baku, selain cara memasak. Ternyata hari ini timbul juga lingkungan dan perangkat atau peralatan juga sebagai penunjang para petugas SPPG,”kata Asep.
Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Satgas MBG mengumpulkan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang jadi penanggungjawab MBG Di tingkat Kecamatan. Mereka mendapat arahan agar program Makan Bergizi Gratis tepat sasaran.
Produksi di dapur, penyaluran sampai diterima penerima manfaat harus dijalankan secara benar.
“Ini adalah program nasional dan menjadi program yang diamanatkan oleh Presiden kita, Pak Prabowo Subianto. Tujuannya sangat mulia, memberikan makanan bergizi dan gratis,” tambah Asep.
Dalam pertemuan tersebut, Wabup Asep secara khusus menyoroti potensi risiko di sepanjang rantai pasok makanan, mulai dari bahan baku hingga makanan diterima oleh penerima manfaat (PM).
“Kepada semua pihak yang terlibat dalam MBG, baik itu adalah SPPI, SPPG-nya, maupun ahli gizi, ini harus betul-betul punya kepedulian dan perhatian yang sangat serius,” tegasnya.
Ia meminta seluruh proses berjalan higienis, lancar, dan tepat waktu, serta tidak boleh menimbulkan ‘kemadaratan’.
“Kemadaratan itu bisa berupa keracunan, atau keterlambatan, dan lain sebagainya,” jelas Asep, menegaskan bahwa keracunan adalah risiko fatal yang harus dihindari. (Adj)









